Era Pemulihan Perbankan Akan Terdiri Atas Lima Tahap, dan Setiap Tahap Menyediakan Sejumlah Peluang Untuk Mengoptimalkan Pertumbuhan Baru

Ajang Berita - Era pemulihan perbankan akan terdiri atas lima tahap, dan setiap tahap menyediakan sejumlah peluang untuk mengoptimalkan pertumbuhan baru. Menurut makalah terbitan Huawei serta perusahaan riset dan konsultan TI global, industri perbankan memulai tahap pemulihan menuju tatanan baru.

Era Pemulihan Perbankan Akan Terdiri Atas Lima Tahap, dan Setiap Tahap Menyediakan Sejumlah Peluang Untuk Mengoptimalkan Pertumbuhan Baru


Baru-baru ini, Huawei dan International Data Corporation (IDC) menggelar prapeluncuran makalah tentang era pemulihan industri perbankan pada 2020 dalam acara "Huawei Global Financial Services Industry Summit 2020".

era-pemulihan-perbankan-akan-terdiri-atas-lima-tahap-dan-setiap-tahap-menyediakan-sejumlah-peluang-untuk-mengoptimalkan-pertumbuhan-baru
Era Pemulihan Perbankan Akan Terdiri Atas Lima Tahap, dan Setiap Tahap Menyediakan Sejumlah Peluang Untuk Mengoptimalkan Pertumbuhan Baru

Makalah tersebut akan diluncurkan secara global pada Agustus mendatang. Menurut IDC, era pemulihan perbankan akan terdiri atas lima tahap, dan setiap tahap menyediakan sejumlah peluang untuk mengoptimalkan pertumbuhan baru.

Industri perbankan secara keseluruhan berada di posisi yang baik untuk menangani tekanan pada 2020.

Industri ini harus memanfaatkan waktu guna memperkuat keahlian dan mengkaji ulang sejumlah prioritasnya dalam transformasi digital.

Perbankan segera memanfaatkan teknologi untuk mempercepat pemulihan bisnis


Tahun 2020 telah menjadi momen guncangan sistemis yang luar biasa akibat COVID-19. Namun, seperti semua krisis yang terjadi, sejumlah peluang dan tantangan hadir secara bersamaan.

Makalah tersebut mengkaji sejumlah respons perbankan atas tekanan yang muncul dari iklim usaha saat ini, serta mengupas beberapa respons terbaik yang dilakukan di seluruh dunia dalam hal taktik dan strategi.

Lebih lagi, makalah ini menjadi acuan pemulihan bisnis yang berguna dan bisa diadopsi kalangan perbankan serta lembaga keuangan lain.

Dengan demikian, para pelaku industri bisa memposisikan diri untuk menjangkau dan melayani kebutuhan nasabah dengan lebih baik pada tahap pemulihan mendatang.

IDC meyakini industri perbankan berada di posisi yang baik untuk menangani sejumlah tekanan pada 2020.

Menurut IDC, industri perbankan memanfaatkan masa ini guna meningkatkan keahlian dan infrastruktur digital serta data agar layanan dan produk yang lebih relevan bisa tersedia.

Sederet produk dan layanan tersebut tak hanya dikelola dan dihadirkan lewat teknologi digital, namun juga diciptakan dan dilahirkan dari metode digital.

Memahami lima tahap pemulihan yang penting demi mengoptimalkan pertumbuhan baru


Makalah IDC dan Huawei akan memetakan lima tahap pemulihan yang penting berdasarkan observasi IDC.

Kelima tahap ini terdiri atas krisis COVID, perlambatan ekonomi, resesi, kembali ke pertumbuhan, dan kondisi normal yang baru.

IDC akan memaparkan dampak dan ciri khas dari setiap tahap. Menurut arahan dan strategi yang dianjurkan IDC, implementasi oleh industri perbankan bisa dijalankan demi memaksimalkan potensi yang ada.

Sejumlah bank telah menjalankan serangkaian strategi pada tahap krisis COVID dan perlambatan ekonomi, termasuk mengutamakan efisiensi dan fitur aplikasi seluler, analisis perilaku nasabah untuk mencermati aktivitas dan pola nasabah baru di tengah waktu yang tak lazim sehingga model bisnis bisa diperbarui, serta memperluas transformasi guna meningkatkan layanan nasabah ketika aktivitas fisik ditiadakan, seperti penyaluran pinjaman.

Dengan demikian, pihak bank mampu mempercepat transformasi dan menawarkan produk perbankan yang sepenuhnya hadir lewat internet. 

Sederet keahlian dan prioritas telah hadir di industri


Kalangan perbankan telah menambah sejumlah keahlian baru di tengah perlambatan ekonomi pada 2020 yang cukup unik. Namun, sejumlah keahlian tersebut turut didukung teknologi dan keahlian digital terbaru.

Misalnya, pada tahap pemulihan awal, evaluasi atas dampak riil dari krisis ekonomi harus dilakukan.

Bank membutuhkan keahlian dalam memahami posisi permodalan, likuiditas, dan kredit yang sesungguhnya melalui beragam skenario yang mungkin terjadi.

Metode stress-testing harus berlangsung pada jenjang yang tinggi, dan simulasi skenario perlu dilakukan berdasarkan data dari krisis yang belum lama terjadi.

Pada tahap akhir, bank akan mengupayakan transparansi untuk posisi likuiditasnya secara seketika (real-time)—intra-day dashboard, contohnya, kini sangat penting untuk menyusun data tersebut.

Melalui beberapa langkah ini, bank dapat memulihkan kondisi bisnis dengan cepat dan meyakinkan: membatalkan transaksi, mengurangi kontrak yang jatuh tempo, atau menyelesaikan transaksi lebih awal.

Berikutnya, bank harus memperbarui rencana daruratnya (contingency plan), terutama dalam interaksi nasabah.

Rencana darurat harus diubah menjadi format baru untuk bekerja dan menjangkau nasabah lewat sejumlah teknologi digital seperti aplikasi seluler, co-browsing untuk layanan konsultasi, bahkan layanan chatbot.

Sejalan dengan beberapa keahlian baru tersebut dan upaya untuk menjaga pangsa pasar, bank harus mampu memenangkan persaingan lewat strategi interaksi nasabah yang digerakkan data atau menguasai fitur yang gesit guna memperkuat sederet produk dan layanan baru sehingga pihak bank bisa lebih responsif terhadap dinamika baru pasca-COVID-19.

Bahan acuan berguna bagi eksekutif perbankan yang ingin memetakan rencananya pada 2020 dan selanjutnya


Untuk mengupas isu-isu tersebut secara lebih lanjut, makalah ini akan menjajaki tahap pemulihan di masa depan, serta menguraikan hal-hal tak terduga yang kemungkinan dihadapi industri perbankan pada tahap perlambatan ekonomi dan kondisi normal yang baru.

Kerangka acuan terbaru dari Huawei dan IDC akan memanfaatkan Resiliency Index yang memuat sejumlah skor kesiapan industri perbankan pada skala regional dalam menangani dan memulihkan bisnis dari efek pandemi.

Skor ini memuat beberapa kategori seperti "kanal", "data dan analisis", serta "pemrosesan alur kerja".

Sistem skor berfungsi sebagai kuantifikasi atas praktik-praktik terbaik dari seluruh penjuru dunia dan dampak bisnis yang dihasilkannya.

Makalah tersebut menjadi bahan acuan penting bagi eksekutif global yang ingin mempelajari sejumlah langkah yang perlu diambil, dan menentukan langkah mana yang mendatangkan dampak terbesar ketika mereka memetakan rencana bisnis baru.

Hingga kini, Huawei telah melayani lebih dari 1.600 pelanggan dari sektor finansial di seluruh dunia, termasuk 45 dari 100 bank terbesar.

Huawei juga menjalin kemitraan strategis yang lengkap dengan lebih dari 20 bank, perusahaan asuransi, dan perusahaan sekuritas berskala besar di seluruh dunia. Huawei tampil sebagai mitra strategis yang tepercaya untuk transformasi digital.

Ajang tahunan "Global FSI Summit" ialah acara bertopik TIK dan berskala global yang diadakan Huawei. Acara ini mengulas kemitraan dan tren industri jasa keuangan. "Global FSI Summit" digelar pertama kali pada 2013, serta menampilkan tokoh-tokoh berpengaruh, sejumlah konsultan dan pakar industri ternama.

Era pemulihan perbankan akan terdiri atas lima tahap, dan setiap tahap menyediakan sejumlah peluang untuk mengoptimalkan pertumbuhan baru.
saffron-super-negin