jasa-pengiriman-ekspedisi

Transisi Menuju Pendekatan yang Lebih Bersifat Regional dalam Konteks Rantai Pasok

Ajang Berita - Transisi menuju pendekatan yang lebih bersifat regional dalam konteks rantai pasok. Rekonfigurasi rantai pasok dunia masih akan terjadi hingga tahun 2030.

Transisi Menuju Pendekatan yang Lebih Bersifat Regional dalam Konteks Rantai Pasok

Rantai pasok global masih terdampak ketika pandemi Covid-19 memasuki tahun ketiga dan krisis di Eropa mengacaukan transportasi Eropa-Asia.
transisi-menuju-pendekatan-yang-lebih-bersifat-regional-dalam-konteks-rantai-pasok
Transisi menuju pendekatan yang lebih bersifat regional dalam konteks rantai pasok
Menurut pakar Mark Millar, kendala ini menjadi kesempatan bagi berbagai perusahaan untuk mengevaluasi kembali kegiatan pengadaan bahan baku dan produksinya, serta mempertimbangkan pendekatan yang lebih bersifat regional ke depannya.

Dia juga memperkirakan, rantai pasok global akan mengalami rekonfigurasi hingga 2025 dan 2030.

Sementara, beberapa perusahaan akan memindahkan lokasi produksi ke wilayah yang lebih dekat dengan tujuan akhir produk (nearshoring), bahkan merelokasinya ke tujuan akhir produk (reshoring).

Tantangan Sektor Logistik dan Rantai Pasok

Millar adalah seorang pakar industri kenamaan dunia di sektor logistik dan strategi rantai pasok. Dia memiliki pengalaman bisnis global selama lebih dari 30 tahun. Dia juga menjadi pembicara terkenal dan penulis buku "Global Supply Chain Ecosystems".

Millar akan memberikan paparan di sebuah webinar yang diadakan DIGITIMES Asia pada 25 Agustus: "From Long Chains to Short Chains: Reforming Global Supply Chains in the Post-Pandemic Era"

Menurut Millar, sebagian besar negara di dunia masih mengalami gangguan rantai pasok barang dalam skala luas, dan beberapa wilayah mulai mengalami pemulihan.
Semakin global rantai pasok, semakin marak pula kendala yang dihadapinya.
Meski demikian, tantangan yang kini ditemui kalangan perusahaan berbeda dari dua tahun lalu, khususnya terkait dengan konflik yang tengah terjadi.

Konflik ini dijuluki insiden "black swan" (peristiwa yang tak terduga) oleh Millar.

Dampak Krisis di Eropa

Millar berkata, sepanjang 2021, satu juta kontainer kereta kargo tambahan melintas dari Timur, sebagian besar dari Tiongkok, menuju Eropa Barat, sebab padatnya sektor perkapalan di laut.
Banyak rute ini melalui Rusia, dan kini tidak lagi tersedia.
Maka, perusahaan pengiriman barang (freight forwarder) dan logistik harus mencari cara untuk menempatkan kontainernya di kapal yang telah dipadati muatan.

Secara lebih luas, krisis di Eropa telah berdampak pada ketersediaan minyak bumi dan gas alam, serta lonjakan harga energi.

Menurut Millar, kondisi tersebut pun menular ke jaringan transportasi global yang melayani rantai pasok.

Fenomena Nearshoring dan Reshoring akan Semakin Marak

Apa yang dapat dilakukan perusahaan guna mengatasi tantangan tersebut?

Meski klise, Millar berkata, kolaborasi di antara mitra rantai pasok menjadi cara praktis untuk menghadapi krisis dalam jangka pendek hingga menengah.

Upaya ini termasuk menemukan sumber atau rute transportasi alternatif yang mungkin berbiaya mahal, namun dapat mengirimkan barang ke tujuan akhir.

Dalam jangka menengah, menurut Millar, disrupsi telah mendatangkan kesempatan untuk melakukan evaluasi ulang setelah globalisasi berjalan 30 tahun.

Misalnya, perusahaan dapat menjalankan pendekatan yang lebih bersifat regional pada masa mendatang.

Pendekatan ini dapat meningkatkan daya tahan dalam rantai pasok dan menurunkan emisi. Bahkan, kalangan perusahaan telah mulai merekonfigurasi rantai pasoknya.

Millar berkata, beberapa perusahaan tengah berencana atau melakukan nearshoring, yakni memindahkan basis pengadaan bahan baku dan produksi ke wilayah yang lebih dekat dengan tujuan akhir.

Perusahaan lain mempertimbangkan relokasi basis pengadaan bahan baku dan produksi ke wilayah tujuan akhir, atau reshoring, juga disebut on-shoring.

"Kami melihat transisi menuju pendekatan yang lebih bersifat regional dalam konteks rantai pasok," jelas Millar.

Pakar juga menambahkan, dalam skenario Eropa, Polandia, Turki, bahkan beberapa negara di Afrika Utara yang memiliki tenaga kerja berbiaya murah, serta berdekatan dengan Eropa secara geografis, akan berpotensi menjadi lokasi nearshoring.

Pengadaan Bahan Baku dan Produksi Tetap Berjalan Baik di Asia

Di tengah fenomena nearshoring dan reshoring yang semakin dekat, timbul pertanyaan tentang dampak rekonfigurasi rantai pasok terhadap Asia, khususnya peran Tiongkok sebagai basis manufaktur berskala besar.

Menurut Millar, mengingat sejumlah alasan, eksodus masif tidak akan terjadi, hanya beberapa porsi lokasi produksi yang meninggalkan Tiongkok atau Asia.

Misalnya, beberapa rantai pasok tergolong sangat kompleks dan telah berkembang dengan baik sehingga opsi relokasi akan memakan biaya yang mahal dan berisiko tinggi.

Di sisi lain, mayoritas pertumbuhan kelas konsumen akan tetap berasal dari Asia, setidaknya hingga 2030.

Millar berkata, kenaikan ini hampir mengimbangi dampak yang terjadi jika nearshoring melanda Asia.

Maka, basis produksi dan pengadaan bahan baku untuk rantai pasok di Asia akan tetap berada dalam posisi yang baik.

Lebih lagi, pemerintah Tiongkok telah menjalankan strategi sirkulasi ganda (dual circulation) guna meningkatkan daya tahan ekonomi.

Kebijakan ini kelak menjadi dorongan baru bagi peningkatan produksi di Tiongkok.

Tren Rantai Pasok di Masa Mendatang

Millar menyimpulkan, transisi riil dari rekonfigurasi rantai pasok dunia akan terlihat jelas pada periode 2025 hingga 2030.

Selain fenomena nearshoring dan reshoring, sejumlah perusahaan akan memusatkan rantai pasok di Tiongkok untuk produk-produk yang dijual di pasar lokal—"Di Tiongkok, untuk Tiongkok" (In China for China).

Bahkan, diversifikasi di sekitar Asia akan menghasilkan strategi "Tiongkok Plus" (China-Plus) sehingga membentuk rantai pasok yang dibangun di Asia untuk Asia.

Beberapa CEO dan CFO dari perusahaan terbuka yang berskala besar kini terlibat dalam keputusan strategis dalam rantai pasok, seperti yang dijelaskan Millar.

Banyak diskusi akan berlangsung di tingkat eksekutif senior guna mengulas tren rantai pasok pada masa mendatang.
Hasilnya akan terwujud secara bertahap dalam lima hingga 10 tahun ke depan.
"Lanskap rantai pasok global pada 2030 akan sedikit berbeda dibandingkan kondisi pada dekade lalu," lanjut Millar.

Diskusi tentang tren rantai pasok pada masa mendatang dapat diikuti di DIGITIMES Supply Chain Webinar yang membahas Rantai Pasok 2025, mengulas disrupsi akibat pandemi Covid, serta mengeksplorasi dinamika sektor logistik dan geopolitik yang akan berdampak terhadap masa depan Rantai Pasok pada era pascapandemi.

Dalam diskusi tersebut bahasan terkait transisi menuju pendekatan yang lebih bersifat regional dalam konteks rantai pasok akan menjadi lebih mudah dipahami.