Survei World Cyber Protection Week Ungkap 42 Persen Perusahaan Kehilangan Data akibat Downtime Tahun Lalu

Ajang Berita, Teknologi - Survei World Cyber Protection Week ungkap 42 persen perusahaan kehilangan data akibat downtime tahun lalu. Hal ini menyebabkan banyak bisnis kehilangan data yang diperlukan pada saat pemulihan (recovery).

Survei World Cyber Protection Week Ungkap 42 Persen Perusahaan Kehilangan Data akibat Downtime Tahun Lalu


Pandemi COVID-19 membuktikan bahwa saat seseorang takut akan mudah dieksploitasi. Menanggapi peningkatan aktivitas tindak kejahatan siber di seluruh dunia, survei global tahunan Acronis membeberkan kerentanan utama yang dialami oleh perusahaan maupun individu
survei-world-cyber-protection-week-ungkap-42-persen-perusahaan-kehilangan-data-akibat-downtime-tahun-lalu
Survei World Cyber Protection Week Ungkap 42 Persen Perusahaan Kehilangan Data akibat Downtime Tahun Lalu
Jakarta, April 2020. Acronis, pemimpin global dalam industri perlindungan siber, membuka World Cyber Protection Week perdananya dengan mengungkapkan bahwa 42% perusahaan mengalami insiden kehilangan data akibat downtime tahun lalu.

Angka yang tinggi tersebut kemungkinan disebabkan oleh fakta bahwa meski 90% perusahaan mencadangkan komponen TI yang harus mereka lindungi, namun hanya 41% yang mencadangkannya secara daily. Hal ini menyebabkan banyak bisnis kehilangan data yang diperlukan pada saat pemulihan (recovery).

Angka yang diungkap dalam acara World Cyber Protection Week Survey 2020 dari Acronis menggambarkan realita baru yang menunjukkan bahwa strategi dan solusi perlindungan data tradisional tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan TI modern individu maupun perusahaan.

Karenanya, Acronis memperingati acara tahunan World Backup Day, yang dirayakan tanggal 31 Maret dalam bentuk pengingat untuk mencadangkan data, dengan mengadakan World Cyber Protection Week dari tanggal 30 Maret sampai 3 April.

Dimana saat ini tidak cukup hanya dengan Backup data saja namun dilengkapi dengan proteksi data dan Cyber security.

Survei tahunan yang dilakukan kepada hampir 3.000 orang ini mengukur kebiasaan perlindungan data oleh pengguna di seluruh dunia:
  • 91% individu mencadangkan data dan perangkat mereka, tetapi 68% masih kehilangan data akibat terhapus tidak sengaja, kegagalan perangkat keras atau lunak, atau cadangan yang tidak di update
  • 85% perusahaan tidak mencadangkan data secara daily, hanya 15% yang melakukan secara daily
  • 26% mencadangkan secara daily, 28% mendacangkan setiap minggu, 20% mencadangkan setiap bulan, dan 10% tidak mencadangkan sama sekali
  • Dari semua yang tidak mencadangkan, hampir 50% beranggapan bahwa pencadangan tidak penting; sementara 42% perusahaan kehilangan data sebagai akibat dari downtime
  • Hanya 17% pengguna personal dan 20% profesional TI mengikuti praktik menggunakan pencadangan hibrida di media lokal dan cloud

Temuan ini menekankan pentingnya menerapkan strategi perlindungan siber yang menyertakan pencadangan data berkali-kali setiap harinya dan dengan aturan pencadangan 3-2-1.

Perlindungan Siber Mengubah Keadaan


Meningkatnya penipuan siber terkait dengan meningkatnya virus COVID-19 yang terdeteksi di Asia dalam 2 minggu terakhir, di Tiongkok, Vietnam, Korea Selatan, dan banyak lagi.

Sementara itu, Indonesia menjadi salah satu negara yang terpapar. Pelaku cyber crime memanfaatkan ketakutan dan kekacauan yang disebabkan oleh pandemi global ini.

“Dengan meningkatkan serangan siber, pencadangan tradisional menjadi target para pelaku kejahatan siber dimana pencadangan ini tidak lagi cukup untuk melindungi data, aplikasi, dan sistem” ujar Refany Iskandar, Managing Director PT Optima Solusindo Informatika.

Survei menunjukkan bahwa hanya mengandalkan pencadangan untuk keberlanjutan bisnis seutuhnya sangatlah berbahaya:
  • 88% profesional TI mengutamakan ransomware, 86% – pembajakan kripto, 87% – serangan rekayasa social engineering seperti phishing, dan 91% – pembobolan data. Pengguna personal: hampir sama tinggi, naik 33% dibandingkan dengan survey Acronis 2019
  • 30% pengguna personal dan 12% profesional TI tidak akan tahu jika data mereka diubah mendadak.
  • 30% pengguna personal dan 13% profesional TI tidak yakin apakah solusi anti malware bisa menghentikan ancaman zero-day
  • 9% perusahaan melaporkan bahwa mereka tidak tahu apakah downtime yang mereka alami mengakibatkan kehilangan data tahun ini.

Untuk memastikan perlindungan lengkap, pencadangan yang aman harus menjadi bagian dari pendekatan perlindungan siber komprehensif dari sebuah perusahaan, termasuk alat perlindungan ransomware, disaster recovery, cyber security, dan perangkat manajemen.

Pendekatan terintegrasi mendalam ini juga memenuhi Lima Vektor Cyber Securiry; memberikan keselamatan, aksesibilitas, privasi, autentisitas, dan keamanan (safety, accessibility, privacy, authenticity, dan security atau SAPAS) untuk semua data, aplikasi, dan sistem.

Rekomendasi World Cyber Protection Week


Baik untuk kebutuhan personal maupun perusahaan, Acronis memiliki lima rekomendasi sederhana untuk memastikan perlindungan yang cepat, efisien, dan aman untuk beban kerja Anda:
  • Selalu buat cadangan data penting. Buat banyak salinan cadangan tersebut baik di media lokal maupun  cloud, hal ini menjamin Anda tetap memiliki semua data jika terjadi kebakaran, banjir, atau bencana lain. 
  • Gunakan sistem operasi dan aplikasi yang paling mutakhir. Mengandalkan OS atau aplikasi lama berarti akan mengakibatkan cyber crime bisa mengakses sistem Anda.
  • Waspadai email, tautan, dan lampiran mencurigakan. Sebagian besar masalah virus dan ransomware diakibatkan oleh teknik rekayasa sosial yang menipu orang untuk membuka lampiran email atau mengeklik tautan ke situs web berisi malware.
  • Pasang perangkat lunak antivirus, anti malware, dan anti ransomware yang diaktifkan update secara otomatisnya agar sistem Anda terlindungi dari malware. Perangkat lunak terbaik akan melindungi dari ancaman zero-day.
  • Pertimbangkan penggunaan solusi perlindungan siber terintegrasi yang memadukan backup, anti ransomware, anti-virus, penilaian kerentanan, dan pengelolaan patch dalam satu solusi. Solusi terintegrasi akan meningkatkan kemudahan dalam penggunaan, efisiensi, dan keandalan sebuah proteksi.

Acronis menetapkan standar bagi cyber protection melalui solusi pencadangan, anti perangkat pemeras (ransomware), disaster recovery system, storage, dan sinkronisasi dan solusi pembagian berkas perusahaan.

Dilengkapi dengan teknologi perlindungan aktif berbasis AI, autentikasi data berbasis rantai blok (blockchain), dan unique hybrid cloud architecture, Acronis melindungi semua data di segala lingkungan, termasuk fisik, virtual, cloud, muatan kerja seluler, dan aplikasi, dengan biaya yang terjangkau dan dapat diprediksi.

Didirikan di Singapura tahun 2003 dan dibentuk sebagai badan hukum di Swiss tahun 2008, Acronis kini memiliki lebih dari 1.500 karyawan di 33 lokasi di 18 negara.

Solusinya dipercaya oleh lebih dari 5,5 juta konsumen dan 500.000 bisnis, termasuk 100% perusahaan Fortune 1000.

Produk-produk Acronis dapat diperoleh melalui 50.000 mitra dan penyedia layanan di lebih dari 150 negara dalam lebih dari 30 bahasa.

Didirikan pada 1990, Optima dikenal sebagai perusahaan yang memberikan dukungan terbaik dengan jarigan reseller yang sangat luas di Indonesia.

Beroperasi di tiga kota besar di Indonesia, yakni Jakarta, Bandung, dan Surabaya, Optima secara konsisten mendukung reseller mendistribusikan software, hardware, dan peranti terbaik di kelasnya.

Optima telah menjadi perusahaan distribusi software terkemuka di Indonesia dan menjadi mitra tepercaya bagi perusahaan, lembaga pemerintah, dan lembaga pendidikan di Indonesia. 

Berpengalaman lebih dari 20 tahun, Optima telah mempromosikan dan mendistribusikan software terkemuka lainnya.

Survei World Cyber Protection Week ungkap 42 persen perusahaan kehilangan data akibat downtime tahun lalu.

saffron-super-negin